Matematika Yunani - Matematika Yunani mulai dikenal sekitar abad 600 SM, yaitu pada masa Thales dari Miletus sekitar 624-548 SM. Kata "matematika" sendiri merupakan turunan dari bahasa Yunani kuno "mathema" yang artinya pelajaran atau belajar dan "matematicos" yang artinya suka belajar.
Jauh sebelum adanya Matematika Yunani yaitu sekitar 2000 SM, telah ditemukan tulisan matematika kuno yang diperkirakan peninggalan Matematika Babilonia dan Mesir, seperti Plimpton 322 sekitar 1900 SM - Matematika Babilonia, Matematika Rhind sekitar 2000-1800 SM - Matematika Mesir, dan Lembaran Matematika Mokswa sekitar 1890 SM - Matematika Mesir. Dengan isi tulisan yang membahas tentang teorema atau yang sering kita sebut sebagai teorema Phytagoras.
Jika dibandingkan dengan matematika pada kebudayaan terdahulu, Matematika Yunani dinilai lebih berbobot karena Matematika Yunani lebih menggunakan penalaran deduktif yaitu cara bangsa Yunani yang lebih mengandalkan logika dan pembuktian. Berbeda dengan matematika terdahulu yang lebih mengandalkan penalaran induktif yaitu melakukan pengamatan berulang-ulang dalam mendirikan aturan praktis. Itulah mengapa pada peradaban Yunani dasar matematika menjadi cara berpikir rasional dalam menetapkan sebuah definisi.
Tokoh Matematika Yunani

Thales (624-548 SM)
Sebelum Thales, pemikiran Yunani dikuasai cara berpikir mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Berbeda dengan pemikiran Thales yang mencoba menjelaskan segala sesuatu ada dan terjadi bukan tanpa sebab, melainkan berkaitan dengan rasio manusia. Pemikirannya itu dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama, dan dikenal sebagai bapak filsafat. Walaupun Thales tidak meninggalkan bukti-bukti atas pemikirannya, beberapa tulisan Aristoteles mengatakan bahwa Thales merupakan orang pertama yang memikirkan tentang asal usul alam semesta. Karena itulah, Thales juga dianggap sebagai perintis filsafat alam.
Thales menyumbangkan pemikirannya dalam matematika khususnya dalam geometri, atau yang biasa disebut teorema Thales, kendati bukan seluruhnya hasil pemikirannya secara murni. Isi teorema Thales sebagai berikut :
1. Sebuah lingkaran terbagi dua sama besar oleh diameternya.
2. Sudut bagian dasar dari sebuah segitiga samakaki adalah sama besar.
3. Jika ada dua garis lurus bersilangan, maka besar kedua sudut yang saling berlawanan akan sama.
4. Sudut yang terdapat di dalam setengah lingkaran adalah sudut siku-siku.
5. Sebuah segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta sudut-sudut yang bersinggungan dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.

Phytagoras (582-507 SM)
Phytagoras dari Samos merupakan perintis aliran phytagoreanisme. Salah satu ajaran yang dikemukakan Phytagoras adalah matempsikosis, yaitu keyakinan bahwa setiap jiwa itu abadi dan setelah kematian, jiwa tersebut akan masuk ke tubuh yang baru.
Nama Phytagoras sering dikaitkan dengan berbagai penemuan, salah satunya penemuan paling terkenal adalah teorema Phytagoras. Walaupun teorema ini telah dibahas jauh sebelum Phytagoras ada, yakni pada Matematika Babilonia dan Matematika Mesir. Tetapi terdapat kemungkinan bahwa Phytagoras adalah orang pertama yang memperkenalkan konsep ini kepada orang-orang Yunani. Dan beberapa penemuan lain yang melibatkan nama Phytagoras, namun masih belum diketahui pasti apakah penemuan tersebut benar murni hasil pemikiraan Phytagoras atau hanya asumsi para pengikutnya.
Bentuk teorema Phytagoras : a^2 + b^2 = c^2
.png)
Eudoxus (408-355 SM)
Eudoxus atau Eudoksos dari Knidos merupakan matematikawan Yunani yang terkenal dengan pemikiranya tentang metode penghabisan, yaitu sebuah rintisan dari integral modern. Sebagai seorang ahli matematika, banyak penemuan yang telah Eudoxus temukan walau beberapa diantaranya dikabarkan telah hilang. Namun, beberapa biografi berkaitan dengan Eudoxus mengatakan ia telah menyelesaikan teori proporsionalitas umum yang dapat diterapkan pada jumlah yang tidak dapat dipahami, dan hasilnya dirangkum dalam Volume 5 dari Euclid (Euclidean). Demikian pula, teori Eudoxus tentang besaran yang tidak dapat dibandingkan (besaran tidak memiliki ukuran yang sama) dan metode kelelahan. Berdasarkan metode kelelahan, menyatakan bahwa volume limas dan kerucut masing-masing adalah sepertiga volume prisma dan tabung dengan alas dan tinggi yang sama.

Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles terkenal dengan berbagai pemikirannya, seperti filsafat, sains, humaniora, ketuhanan. Aristoteles mengemukakan bahwa metode penemuan pengetahuan dan kebenaran terbagi menjadi dua, yaitu metode induktif dan metode deduktif. Metode induktif bertujuan menyimpulkan hal-hal khusus menjadi suatu kesimpulan umum. Sedangkan, metode deduktif hanya menyimpulkan kebenaran dari dua hal yang bersifat pasti dan diragukan. Metode deduktif bertujuan menyimpulkan hal-hal umum menjadi suatu kesimpulan khusus. Aristoteles juga menjadikan metode deduktif sebagai metode terbaik dalam memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru yang di dasarkan kepada kesimpulan.

Euclide (323-283 SM)
Euclide dikenal sebagai "bapak geometri". Pemikirannya berkaitan dengan matematika terkenal dengan definisi, aksioma, teorema, dan bukti. Bukunya, Elemen, dikenal di segenap masyarakat terdidik di Barat hingga pertengahan abad ke-20. Walaupun terkenal untuk hasil-hasil pada ilmu geometri, buku ini juga menjelaskan mengenai teori bilangan. Dalam buku ini juga menyertakan bukti bahwa akar kuadrat dari dua adalah irasional dan tak-hingga banyaknya bilangan prima. Selain itu, Euclide juga menulis karya tentang perspektif, irisan kerucut, geometri bola, teori bilangan, dan pembuktian matematika.

Archimedes (287-212 SM)
Penemuan Archimedes dalam bidang matematika yang saat ini sering dijumpai adalah penemuan tentang nilai pi yang lebih mendekati dari ilmuwan sebelumnya, yaitu 223/71 dan 220/70. Penemuan lainnya dalam matematika adalah pembuktian tentang volume dan luas permukaan bola adalah 2/3 dari tabung.
____________________________
Komentar
Posting Komentar